
Di usianya yang kini menginjak 7 tahun, Hendika Cahya Pratama harus memikul kenyataan hidup yang teramat pahit. Anak laki-laki pertama dari pasangan Almarhum Habibi dan Ibu Tuti Maryana ini terlahir dengan kondisi jantung yang tidak sempurna. Di saat anak-anak seusianya bisa berlari ceria menatap masa depan, Hendika justru harus berkejaran dengan waktu demi bertahan hidup melawan penyakit mematikan yang perlahan menguras tenaganya.
Kisah pilu ini bermula saat Hendika menginjak usia 5 tahun dan tengah mengenyam pendidikan di bangku TK. Sang ibu, Ibu Tuti, menyadari ada hal yang tidak beres pada tubuh anaknya ketika badan Hendika tiba-tiba diserang demam tinggi yang tidak kunjung turun. Tubuh kecilnya mendadak lemas, kehilangan seluruh tenaga, hingga akhirnya pemeriksaan medis memuntahkan vonis yang meremukkan hati: Hendika mengidap kelainan jantung bawaan.
Kini, seiring bertambahnya usia, dampak dari bocor jantung itu semakin menggerogoti fisik Hendika secara memprihatinkan. Di usianya yang sudah 7 tahun, badannya kian kurus kering dengan berat badan yang hanya menyentuh 13 kg, angka yang sangat tidak sesuai dan jauh tertinggal dari pertumbuhan anak-anak normal sebayanya. Pasokan oksigen yang sangat minim dalam darahnya juga membuat ujung jari jemari tangan dan kakinya kerap kali berubah warna menjadi biru keunguan.
Setiap hari menjadi perjuangan fisik yang melelahkan bagi Hendika karena dadanya sering kali terasa sangat sesak. Jangankan untuk bermain atau berjalan jauh, sekadar beraktivitas ringan di dalam rumah saja sudah membuatnya terengah-engah kehabisan napas karena jantungnya harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras. Kondisinya yang ringkih ini membuat Ibu Tuti dilingkupi rasa cemas yang luar biasa setiap kali melihat putranya mulai kesulitan bernapas.

Duka keluarga asal Desa Sukarami, Kecamatan Buay Sandang Aji, Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) ini kian berlapis dan terasa runtuh sepenuhnya pada Agustus 2025 lalu. Sang ayah yang selama ini menjadi pelindung dan tiang keluarga, mengembuskan napas terakhirnya dan pergi untuk selama-lamanya. Kehilangan sang kepala keluarga menyisakan luka menganga sekaligus beban berat yang seketika berpindah ke pundak sang ibu sendirian.

Kini, Ibu Tuti harus berjuang sendirian sebagai orang tahu tunggal demi menghidupi Hendika dan adik perempuannya yang masih balita berumur 3 tahun. Demi menyambung hidup dan membeli obat, Ibu Tuti rela membanting tulang bekerja sebagai buruh sawah panggilan. Pekerjaan yang sangat bergantung pada musim ini membuatnya tidak memiliki penghasilan menentu, seringkali hanya cukup untuk mengganjal perut yang lapar.
Penghasilan buruh sawah yang serba kekurangan itu membuat keluarga ini berada di titik kritis saat harus memikirkan biaya pengobatan Hendika ke RSMH Palembang. Jarak tempuh yang sangat jauh dari kediaman mereka di OKUS membutuhkan biaya transportasi dan akomodasi luar biasa besar. Guna memenuhi kebutuhan makan atau sekadar membeli obat ala kadarnya saja, keluarga kecil ini terpaksa hanya bisa mengandalkan bantuan darurat dari kerabat dekat dan tetangga sekitar yang merasa iba.
Ibu Tuti kerap kali menangis dalam sujudnya, memandangi wajah anak pertamanya yang kian layu dan putri kecilnya yang belum mengerti apa-apa. Melalui galang dana ini, Ibu Tuti mengetuk hati para #OrangBaik di mana pun berada dan menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas setiap doa serta bantuan yang diberikan. Mari bersama-sama kita gandeng tangan Ibu Tuti, ringankan langkah Hendika menuju RSMH Palembang agar ia bisa mendapatkan operasi jantungnya. Semoga setiap kebaikan yang Anda sisihkan dibalas dengan rezeki yang mengalir lancar, kesehatan, serta keberkahan yang melimpah oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
