
Campaign ini sudah melewati tanggal berakhir, sehingga donasi tidak dapat dilakukan lagi.
Tanggal berakhir: 31 Jul 2026
Di dalam sebuah ruangan sempit berdinding kusam, Ibu Mela Raniah—atau yang akrab disapa Ibu Rani—kini hanya bisa menghabiskan hari-harinya dengan terbaring lemah di atas lantai semen dingin. Dunia perempuan berusia 36 tahun ini seolah runtuh seketika semenjak kecelakaan sepeda motor tragis menimpanya beberapa tahun lalu. Kecelakaan itu tidak hanya meninggalkan trauma mendalam, tetapi juga memicu komplikasi fatal berupa penyakit Osteomyelitis atau infeksi bakteri serius yang perlahan menggerogoti tulang kakinya hingga membuatnya hanya bisa ngesot.
Penderitaan Ibu Rani kian perih menembus dada karena ujian hidupnya datang bertubi-tubi. Bukannya mendapatkan dekapan hangat dan dukungan dari orang tercinta di masa-masa sulitnya, sang suami justru memilih pergi angkat kaki dan menceraikannya begitu saja pasca-kecelakaan tersebut. Di tengah keterbatasan fisik yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalan, kini Ibu Rani dipaksa takdir untuk berjuang seorang diri sebagai orang tua tunggal demi membesarkan kedua anak gadisnya yang masih sangat kecil.
Di ruangan kecil beralaskan semen itu pula, Ibu Rani tidur saling berhimpitan dan memeluk kedua putri kecilnya setiap malam. Anak-anak gadisnya saat ini masih duduk di bangku sekolah dan berada di usia yang sangat membutuhkan kasih sayang, rawatan, serta pendampingan dari sosok ibu yang sehat. Namun apa daya, melihat ibunya yang dulu tegap kini tak berdaya menahan sakit saban hari, batin kedua anak itu tentu ikut tersiksa melihat perjuangan berat sang ibu.
Untuk menyambung hidup, Ibu Rani dan kedua anaknya kini terpaksa menumpang tinggal di sebuah rumah sederhana milik ayah sambungnya. Sang ayah sambung hanyalah seorang lansia yang menyambung napas keluarga dengan bekerja sebagai kuli panggul di pasar. Pekerjaan kasar yang menguras tenaga itu pun memberikan penghasilan yang sangat tidak menentu, bahkan seringkali dalam sehari ia tidak berhasil membawa pulang uang hingga lima puluh ribu rupiah.

Dari selembar uang limapuluh ribu yang tak pasti itulah, mereka semua harus memutar otak dan bertahan hidup. Biaya makan sehari-hari, keperluan sekolah anak-anak yang mendesak, hingga kebutuhan operasional rumah tangga lainnya harus dicukup-cukupkan dari upah buruh panggul tersebut. Alhasil, jangankan untuk memikirkan biaya berobat jalan medis yang mahal ke RSUP Dr. M. Hoesin (RSMH) Palembang, untuk sekadar membeli beras pun mereka sering kali kesusahan.

Ketiadaan biaya dan himpitan lapar pernah membawa Ibu Rani ke titik terendah dalam hidupnya. Karena tidak ada cara lain lagi untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah, ia pernah dengan sangat terpaksa menahan malu meminta-minta di pinggir jalan setiap hari Jumat. Semua itu ia lakukan dengan menyeret tubuh ringkihnya semata-mata hanya agar kedua anak gadisnya hari itu tetap bisa makan nasi dan memegang sedikit uang jajan untuk sekolah mereka.
kian memburuk dan sering kali memicu nyeri hebat yang tak tertahankan. Kondisi tubuhnya yang terus melemah membuat Ibu Rani tidak lagi selalu mampu untuk melakukan hal tersebut. Jika tidak segera mendapatkan bantuan medis darurat dan pemenuhan gizi yang layak, infeksi di tulangnya berisiko menyebar luas, dan masa depan kedua anak gadisnya yang tidak berdosa itu terancam kian suram.
Sahabat dan #OrangBaik, Ibu Rani telah kehilangan kebahagiaan dan kesehatan fisiknya, jangan biarkan ia juga kehilangan harapan untuk melihat anak-anaknya tumbuh dewasa. Mari kita kirimkan uluran tangan dan bantuan terbaik kita untuk meringankan biaya pengobatan infeksi tulangnya, kebutuhan hidup sehari-hari, serta mengembalikan senyuman di wajah kecil anak-anaknya. Sedikit bantuan dari Anda adalah lentera penuntun yang menyelamatkan masa depan keluarga kecil ini.
Mari jadi Fundraiser dan berikan manfaat bagi program ini.

Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
Belum ada donatur. Jadilah yang pertama!
